Sepeda Jengki dan Sinergitas Pembelajaran Berbasis Masjid dan Warung Makan
(Biografi Ahmad Muwaffaq Noor: Sang Organisatoris Pembaharu Pendidikan Keluarga dan Madrasah)
Oleh : Ahmad Agus Salim
“Sangat sulit untuk mewujudkan semua mimpi dan cita-cita yang kita punya dalam hidup ini. Namun bukan mustahil untuk semua itu berhasil diraih. Salah satu caranya adalah dengan menjadi guru. Mengajar tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan dan membentuk budi pekerti, namun juga media penyerahan tongkat estafet dari seorang guru kepada murid-muridnya agar mampu mewujudkan mimpi dan cita-cita mereka”. Kalimat diatas adalah ungkapan dari Ahmad Agus Salim, putra bungsu KH. Ahmad Muwaffaq Noor dalam mendeskripsikan ayahandanya. Baginya hubungan dengan Sang Ayah tidak sekedar ikatan biologis darah saja, namun juga ikatan keilmuan karena Sang Ayah lah yang pertama kali mengajarkan cara baca al-Qur’an, tulisan arab pegon, ilmu Nahwu Sharaf dan Bahasa Arab bahkan tafsir. Masih teringat jelas bagaimana suara Sang Ayah mengeja kalimat الشمس طالعة, utawi srengege iku mletek, salah satu contoh jumlah mufidah di awal pembahasan dalam Kitab Nahwu Wadhih saat Agus masih duduk di Madrasah Ibtidaiyah.
Muwaffaq lahir di Desa Bulumanis Kidul, Margoyoso, Pati, pada tanggal 27 April 1941 M. Beliau sendiri merupakan anak ke-2 dari 7 bersaudara. Ayahnya bernama KH. Noor Hamid dan Ibunya Hj. Aminah. Nasab beliau apabila dirunut keatas dari jalur ayah akan sampai ke Mbah Mizan, yaitu salah seorang ulama besar di daerah Pati Utara, keponakan sekaligus murid dari Waliyullah KH. Ahmad Mutamakkin Kajen.
Lahir di lingkungan keluarga yang agamis dan akademik, menjadikan Muwaffaq sosok yang haus akan ilmu. Setelah dirasa memiliki dasar keilmuan yang cukup, baik dari kemampuan tulis menulis dan pengetahuan dasar, serta pengetahuan yang berkaitan dengan ulum a-din (ilmu agama), Muwaffaq kemudian mengikuti jejak kakaknya Nooria Hasan untuk menimba ilmu di Ponpes Darussalam, Gontor, Ponorogo. Secara umum, di pondok inilah karakter dan kepribadian Muwaffaq muda terbentuk. Pembelajaran dengan metode modern, pembentukan leadership dan kemampuan Bahasa Arab dan Inggris aktif yang mumpuni nantinya akan menjadikan Muwaffaq sebagai salah satu ulama yang memiliki nilai lebih dibandingkan ulama-ulama lain di Kawasan Pati Utara yang notabene berbasis Pesantren Salaf.
Selesai dari Gontor, Muwaffaq kemudian melanjutkan perjalanan akademisnya ke Yogyakarta, tepatnya ke IAIN Sunan Kalijaga dan memperoleh gelar Bachelor of Art atau Sarjana Muda. Selesai dari sana, Muwaffaq kemudian kembali ke Pati dan berkiprah di dunia Pendidikan dan sosial kemasyarakatan. Bersama kakaknya Nooria Hasan, Muwaffaq mendapat julukan 2 pendekar muda di kalangan kyai dan santri daerah Pati Utara. Bahkan, mereka sempat membuat tim penulis kitab/diktat yang menyetok buat para santri di berbagai pondok di Jawa, khususnya ke pondok almameter mereka di Gontor. Bahkan Kyai Sahal Mahfudz yang pada saat itu baru pulang dari Sarang juga beberapa kali ikut menjadi tim penulis kitab, karena memang kealiman dan keindahan tulisan tangan beliau (cerita dari Zaenal Arifin, adik Muwaffaq kepada penulis).
Muwaffaq selanjutnya diambil sebagai menantu oleh KH. Abdul Wahab, salah satu kyai pengasuh dari Pesantren Salafiyah Kajen. Beliau dinikahkan dengan putri pertamanya yang bernama Syafi’ah. Muwaffaq kemudian tinggal di desa kajen dan ikut membantu mengembangkan Madrasah Salafiyah Kajen.
Sosok yang tegas dan disiplin adalah gambaran dari Muwaffaq, terutama dalam mengajar para santri dan mengelola Madrasah sebagai kepala sekolah. Pengalaman keorganisasian dari Pondok Gontor dan selama kuliah kemudian diterapkan untuk mengubah beberapa pola pembelajaran menjadi lebih modernis dan menyesuaikan zaman. Muwaffaq kemudian membentuk pola pengkaderan santri dalam wadah sebuah organisasi yang sekarang ini disebut Keluarga Pelajar Salafiyah (KPS) dan Keluarga Pelajar Putri Salafiyah (KPPS). Beliau mengenalkan pola pelatihan leadership atau kepemimpinan kepada para santri agar nantinya siap untuk berkiprah di Masyarakat.
Dalam bidang kurikulum, Muwaffaq juga melakukan berbagai gebrakan, beliau mengenalkan Kitab Nahwu Wadhih yang lebih bersifat aplikatif dan banyak menampilkan contoh-contoh dalam sistem pembelajaran Tata Bahasa Arab di Madrasah Salafiyah Tingkat MTs. Kemungkinan besar hal tersebut beliau adopsi dari Pondok Modern Gontor yang lebih menekankan pada tataran praktek. Selain itu, beliau membuat terobosan dengan membuka Kelas Banat (Perempuan) di Madrasah Salafiyah, yang sebelumnya hanya ada Kelas Banin (Santri laki-laki). Rintisan kelas banat pada awal mulanya tidak masuk ke dalam Yayasan, namun setelah Muwaffaq membuktikan eksistensinya selama 3 tahun, akhirnya pengurus yayasan menyetujui untuk dimasukkan ke dalam Yayasan Salafiyah, bahkan kedepannya nanti Kelas Banat ini menjadi pilar utama Madrasah Salafiyah secara kuantitas dan kualitas.
Lain daripada yang lain. Itulah nilai lebih dari seorang Muwaffaq. Seorang guru dan ulama yang memiliki kelebihan mampu menguasai 2 bahasa asing secara aktif, yaitu Arab dan Inggris, merupakan sesuatu yang langka pada saat itu di wilayah Pati Utara. Kemampuan ini pula yang menjadikan Muwaffaq diminta untuk menjadi guru Bahasa inggris di berbagai Madrasah dan sekolah yang berbeda-beda. Satu yang menarik adalah, meskipun terkenal sangat tegas dalam mendidik, namun Muwaffaq juga sangat dekat dengan murid-muridnya, bahkan tak jarang Muwaffaq mengajak murid-muridnya pergi bersilaturahmi ke para kyai dan keluarga salafiyah yang menetap di luar kota Pati. Ahmad Suba’i, salah satu muridnya pernah bercerita, bahwa Muwaffaq sangat dekat dengan para santri dan sering mengajaknya pergi untuk silaturahmi, semisal ke kediaman KH. Afif Daenuri di daerah Sendangguwo Semarang, yang merupakan paman beliau atau menantu dari Mbah Baidlowi, Pendiri Madrasah Salafiyah.
Muwaffaq adalah seorang organisatoris sejati. Selain sibuk di Lembaga Pendidikan, beliau aktif pula di keorganisasian kemasyarakatan, tercatat beliau pernah menjadi sekretaris NU Kabupaten Pati. Muwaffaq kemudian harus pindah dari desa kajen dan menetap di Desa Bulumanis Kidul karena harus menemani orang tuanya. Di Bulumanis, beliau sangat aktif di Masyarakat, semisal menjadi pengurus Ta’mir Masjid Al-Muttaqin dan menjadi tokoh berbagai organisasi kepemudaan. Yang menarik rumah beliau di Bulumanis setiap harinya ramai didatangi para santri untuk mengaji al-Qur’an, baik dari penduduk sekitar, maupun santri dari desa lain. Belasan tahun setelah beliau wafat, rumah tersebut kemudian menjadi Pesantren Bunyanun Marshush yang diasuh oleh putra pertamanya, KH. Ahmad Ruman Masyfu’, Sebuah pesantren yang fokus pada Tahfidz, Kitab, Sains dan Bahasa.
Muwaffaq memiliki ghirah keilmuan yang tinggi, Teman-teman beliau sering datang menjenguk saat beliau sakit hingga akhirnya wafat, bukan untuk berkeluh kesah, namun guna berdiskusi tentang keilmuan, karena bagi mereka hanya fisik tubuh Muwaffaq yang tidak bisa digerakkan secara normal, namun akal pikirannya masih sangat sehat. Kecintaan beliau pada belajar dan mimpi-mimpi beliau untuk bisa meneruskan studi ke luar negeri pun sebenarnya tidak pernah mati. Pada saat sakit menjelang wafat, Muwaffaq dengan penuh keyakinan sering mengatakan pada orang-orang yang menjenguknya, bahwa nantinya akan ada diantara anak-anaknya yang kuliah di Eropa dan Arab, dan Allah mengabulkan perkataan beliau yang mungkin menjadi do’a mustajab saat beliau sakit. Anak kedua beliau Ahmad Adib Susilo kemudian mendapatkan beasiswa di Inggris, dan tidak berselang lama anak terakhirnya Ahmad Agus Salim, juga diterima di Universitas Al-Azhar Mesir. Selain itu, Muwaffaq juga mengkader putra pertamanya di Pondok Pesantren Peneleh Surabaya, dibawah asuhan KH. Dahlan Basuni, Seorang Maestro Qur’an keturunan Sunan Ampel. Muwaffaq bagaikan bisa melihat masa depan bahwa nantinya pola-pola Pesantren Salaf pada saat itu yang lebih berorientasi pada keilmuan kitab kuning dengan model klasikal, akan bergerak ke pola Pesantren Tahfidz al-Qur’an yang integral dengan keilmuan pendukung seperti tata Bahasa arab, fikih, tafsir, hadits, berbalut akhlak dan berbasis riset dengan memanfaatkan teknologi kekinian.
Sosok tegas ini meninggal pada hari jum’at, tanggal 16 Agustus 2002, satu hari menjelang perayaan kemerdekaan Indonesia. Beliau meninggalkan satu istri dan empat orang anak, tiga laki-laki dan satu Perempuan. Selamat Jalan Sang Pemimpi yang dipeluk mimpi-mimpinya oleh Sang Ilahi. Bertahun-tahun setelah beliau tidak ada, rumah peninggalannya sekarang berdiri dengan megah Pondok Pesantren Bunyanun Marshush dan Madrasatul Qur’an Salafiyah yang menjadi pembaharu sistem dan model Pendidikan keagamaan di Pati Utara.
Satu hal yang masih sering terbersit dalam benak penulis. Beliau selalu memboncengkan penulis yang saat itu belum genap berumur 10 tahun dengan sepeda jengki, guna mengikuti jama’ah shalat subuh di Masjid setiap hari. Selesai shalat, beliau akan mengajak keliling kampung, kemudian diakhiri dengan makan di warung ujung desa, membeli semangkuk soto dan teh hangat sambil bercengkerama dengan para petani, pedagang dan pekerja, bahkan selanjutnya saat beliau kemudian sakit menahun, penulis tetap disuruh untuk melanjutkan rutinitas subuhan di masjid dan tentunya sepaket beli sarapan di warung nasi yang penuh dengan hiruk pikuk manusia menyambut pagi dengan semangat untuk mengais rizki. Dan saat ini, penulis masih bertanya dalam pikirannya, Apa tujuan beliau memberikan pembelajaran mendalam (deep learning) yang sampai saat ini masih terkenang ?, (Agassa)
Nama : KH. Ahmad Muwaffaq Noor, BA.
Tempat Lahir : Bulumanis Kidul, Margoyoso, Pati
Hari dan Tanggal Lahir : Ahad, 27 April 1941
Tempat Wafat : Bulumanis Kidul, Margoyoso, Pati
Hari dan Tanggal Wafat : Jum’at, 16 Agustus 2002
Istri : Syafi’ah
Anak : Ahmad Ruman Masyfu’, Ahmad Adib Susilo,
Nusroh Fitriyana, Ahmad Agus Salim
Orang tua : KH. Noor Hamid dan Hj. Aminah
Mertua : KH Abdul Wahab dan Hj. Su’adah
Pendidikan Formal : 1. Pesantren Darussalam, Gontor, Ponorogo.
2. IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.




