Madrasah Berbasis Digital PP. Bunyanun Marshush

Syafi’ah : Obat Penyembuh Dalam Berbagai Luka Perjuangan

Syafi’ah : Obat Penyembuh Dalam Berbagai Luka Perjuangan

(Biografi Hj. Syafi’ah Muwaffaq: Perjuangan Tidak Boleh Berhenti di Satu Generasi)

Oleh : Ahmad Agus Salim*

“Bu Syafi’, Bu Syafi’, mriki Bu…. pisange niki lho sae sae. Bu Syafi’, niki bandenge anyaran Bu… Bu, niki ayame ngersakke pinten, berase niki pulen, eco sanget bu, nembe nyelep…” masih terngiang jelas suara bersahutan para pedagang puluhan tahun silam, saat tangan kecil ini digandeng oleh Ibu, menyusuri jalanan kecil dan becek saat musim hujan di dalam Pasar Bulumanis. Hampir semua pedagang yang kami lewati menyapa Ibu dengan ramah, bahkan terkesan sangat antusias. Dan kenapa aku sering ikut ke pasar, karena diakhir perjalanan melelahkan itu, pasti aku akan dibelikan cecek, menu kulit sapi yang dimasak dengan kuah kuning gurih dan ada sumsum bulat memanjang yang benar benar menggoda selera.

Sebelas tahun silam, Sabtu, tanggal 25 Muharram 1437 H. Allah sudah tidak lagi bisa menahan rindu untuk memanggil Ibu pulang. Salah satu pelajaran yang kuingat adalah dari kelakarmu, bahwa dalam kehidupan ini kita harus bisa memposisikan diri. Perumpamaanmu kala itu bahwa Bapak laksana Api (terkenal tegas dan kadang galak), yang kadang bisa menjadi sangat panas, maka engkau berusaha menjadi air yang akan mendinginkannya agar tidak terjadi kebakaran. Banyak orang mengatakan bahwa api dan air itu bertentangan, tidak bisa menyatu, namun tidak banyak yang mampu memposisikan agar mereka bisa menjadi partner yang saling menjaga dan eksis bersama-sama, saling memberi kebermanfaatan.

Akar Genealogi dan Tradisi Tarbiyah Keluarga

Di tengah lanskap keilmuan Islam nusantara, eksistensi pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan sebuah episentrum peradaban keilmuan dan spiritual. Dalam ruang sosio-keagamaan inilah, Syafi’ah dilahirkan dan ditempa. Beliau merupakan putri pertama dari pasangan KH. Abdul Wahab dan Nyai Hj. Su’adah Baidlowi. Secara genealogi keilmuan dan spiritual, Hj. Syafi’ah lahir di Kajen, 21 September 1948 dari rahim tradisi pesantren yang sangat kuat; beliau adalah cucu pertama dari ulama kharismatik pendiri Madrasah Salafiyah Kajen, KH. Baidlowi Sirodj, yang memiliki nasab sambung sampai kepada KH. Ahmad Mutamakkin, seorang Waliyullah di Kawasan Pantai Utara Jawa.

Tumbuh besar di rumah yang bertatapan langsung dengan Musholla dan Pondok Pesantren Salafiyah Kajen, ruang spasial masa kecilnya secara tidak langsung membentuk karakter, integritas, dan kecintaannya pada ilmu agama. Atmosfer hafalan kitab, deru langkah santri, dan kebersahajaan hidup para masyayikh menjadi fondasi awal yang membentuk cakrawala pemikirannya. Sebagai seorang putri dari keluarga pesantren, rihlah ilmiah Hj. Syafi’ah dirancang dalam koridor tafaqquh fiddin yang ketat dan terstruktur. Beliau menempuh dan menyelesaikan pendidikan keagamaan di Madrasah Banat Matholi’ul Falah, sebuah lembaga pendidikan putri legendaris yang terkenal dengan kedisiplinan keilmuannya.

Haus akan samudra ilmu, beliau memperluas cakrawala spiritual dan intelektualnya dengan menempuh tradisi nyantri (berkelana mencari ilmu) ke berbagai poros keilmuan penting. Beliau mengaji di bawah bimbingan ulama sepuh, Mbah Hisyam Kudus, sebelum akhirnya mematangkan sanad keilmuan dan mentalitas perjuangannya di Pondok Pesantren Assiddiqiyah Jember, Jawa Timur, yang saat itu diasuh secara langsung oleh KH. Halim Sidiq. Rangkaian perjalanan intelektual ini tidak hanya membekali beliau dengan pemahaman keagamaan yang mendalam, tetapi juga membentuk ketahanan mental seorang pendidik. Beliau saat itu mendapatkan kesempatan berkhidmah sebagai guru menjagar alfiyah di almameter pesantren dan madrasahnya.

Khidmah Pendidikan: Membangun Pilar Madrasah Banat (Putri) Salafiyah

Sebagai anak sulung dari 11 bersaudara, Hj. Syafi’ah memikul tanggung jawab moral untuk menjadi teladan bagi keluarga dan masyarakat. Garis takdir kemudian mempertemukannya dengan KH. Muwaffaq Noor, seorang santri alumni Pesantren Gontor Ponorogo dan Bachelor UIN Sunan Kalijaga yang berasal dari Desa Bulumanis Kidul. Pernikahan ini menjadi pemantik sinergi perjuangan yang luar biasa. Bersama sang suami, beliau kembali ke rahim perjuangan leluhurnya untuk meneruskan estafet dakwah Mbah Baidlowi di Madrasah Salafiyah Kajen.

Momentum historis terjadi pada tahun 1973. Didorong oleh kegelisahan akademik akan pentingnya wadah pendidikan formal yang representatif bagi kaum perempuan, Hj. Syafi’ah mnedukung penuh sang suami, KH. Muwaffaq Noor memelopori pendirian unit Banat (Putri) di Madrasah Salafiyah.

Mengikuti jejak luhur ayahanda, kakek, dan buyutnya, perjuangan Hj. Syafi’ah tidak sekadar menguras tenaga dan pikiran, melainkan juga melibatkan penyerahan materi. Beliau dengan ikhlas menghibahkan harta bendanya demi menopang infrastruktur dan keberlangsungan lembaga pendidikan putri tersebut di fase rintisan awal. Pengorbanan yang tulus dan manajerial yang rapi ini membuahkan hasil, hingga akhirnya eksistensi Banat Salafiyah secara formal diakui dan diintegrasikan oleh pihak Yayasan setelah tiga tahun berdiri. Di Yayasan, Syafi’ah juga meneruskan Ayahandanya KH. Abdul Wahab sebagai Bendahara Yayasan yang bertanggung jawab penuh atas eksistensi keuangan institusi.

Kiprah Organisasi: Perjuangan di Nahdlatul Ulama dan Membangun RSI Pati

Spektrum khidmah Hj. Syafi’ah tidak terbatas pada dinding madrasah. Beliau menyadari bahwa perubahan sosial yang lebih luas harus digerakkan melalui media organisasi keumatan. Dalam sejarah pergerakan perempuan NU di ranah regional, beliau menorehkan tinta emas sebagai Ketua Pertama Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Pati. Kiprah kepemimpinannya berlanjut secara konsisten pada jajaran kepengurusan Fatayat hingga Muslimat NU di Pati.

Kapasitas kepemimpinan dan integritasnya membuat beliau dipercaya oleh Nyai Hj. Nafisah Sahal, untuk membidani lahirnya institusi pelayanan kesehatan umat. Bersama-sama, mereka merintis konversi sebuah Rumah Bersalin (RB) kecil hingga bertransformasi menjadi Rumah Sakit Islam (RSI) Pati. Di lembaga ini, dedikasi beliau diuji dan terbukti; beliau dipercaya menjadi salah satu pilar utama penggerak, baik duduk di jajaran Yayasan maupun mengemban amanah strategis sebagai Direktur Personalia.

Transformasi Geografis: Menebar Maslahat Dari Desa Bulumanis Kidul

Panggilan bakti sebagai seorang istri dan anak, menuntun Hj. Syafi’ah berpindah domisili dari Desa Kajen menuju Desa Bulumanis Kidul – sebuah wilayah yang berjarak sekitar 1 kilometer ke arah timur dari tempat kelahirannya. Kepindahan ini didasari oleh keluhuran budi untuk merawat mertua serta mendampingi perjuangan suami di tanah kelahirannya.

Perpindahan geografis ini nyatanya justru memperluas jangkauan kebermanfaatan beliau. Di Bulumanis Kidul, keikhlasan dan ketulusan beliau dalam membina masyarakat grass-roots melalui pengajian dan kegiatan sosial membuat sosoknya begitu dicintai. Sifat kedermawanannya yang tanpa pamrih (tasamuh) berkembang menjadi buah bibir yang legendaris di kalangan masyarakat setempat. Beliau menjadi oasis tempat masyarakat mengadu dan menimba kearifan.

Meskipun menetap di Bulumanis Kidul, loyalitas khidmah beliau tidak pernah memudar. Beliau tetap menempuh perjalanan harian untuk mengajar di Madrasah Salafiyah Kajen, aktif menggerakkan roda organisasi Muslimat, dan menakhodai manajemen personalia di RSI Pati hingga fisik beliau mulai melemah akibat sakit disekitar tahun 2010.

Keberlanjutan Estafet Perjuangan: Putra-Putri Sebagai Penerus Penjaga Tradisi Kebermanfaatan  

Pada hari Sabtu, 15 November 2015 M / 25 Muharram 1437 H, sang khadimah ummat ini dipanggil pulang ke hadirat Allah SWT. Kepergiannya meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga besar. Namun, sebuah adagium ulama menyatakan bahwa seorang pejuang tidak pernah benar-benar wafat selama warisan idenya tetap hidup.

Estafet perjuangan dan nilai-nilai luhur Hj. Syafi’ah kini bertransformasi dan dilanjutkan oleh putra-putrinya yang tersebar di berbagai ranah pengabdian kultural maupun struktural. Putra pertamanya, Ahmad Ruman Masyfu’ meneruskan suksesi perjuangan keilmuan di Madrasah Salafiyah Kajen serta menginisiasi pendirian Pondok Pesantren Bunyanun Marshush dan Madrasatul Qur’an Salafiyah yang berpusat di Bulumanis Kidul, Margoyoso, Pati. Adapun putra keduanya Ahmad Adib Susilo, mendedikasikan keahlian profesional dan birokrasinya untuk bangsa dengan berkhidmah di Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Republik Indonesia, sebagaimana beliau juga pernah berkhidmah sebagai bendahara keuangan di Yayasan Salafiyah Kajen.

Nusroh Fitriyana, putri ketiga beliau melanjutkan legasi sang ibunda dalam dunia kesehatan kemanusiaan dengan berkhidmah di Rumah Sakit Islam (RSI) Pati. Sedangkan Ahmad Agus Salim sang putra bungsu mengambil jalan pengabdian sebagai pendidik (guru) dan penulis di wilayah Bantul, Yogyakarta, membawa corak keilmuan pendidikan keluarga ke ranah pendidikan publik.

Melalui potret biografis ini, sosok Hj. Syafi’ah adalah representasi nyata dari keterpaduan antara kedalamankesalehan intelektual, kesalehan sosial, dan konsistensi dalam berkhidmah. Warisannya akan terus hidup dan menginspirasi generasi-generasi setelahnya, terutama anak-cucunya, sebagaimana nama beliau, Syafi’ah, akan selalu menjadi obat penyembuh dalam berbagai luka perjuangan.

  • Penulis adalah putra bungsu Hj. Syafi’ah

Share ke sosial media!