Profil Biografi: K.H. Ahmad Muwaffaq Noor (1941–2002)
Aroma Opor Mengepul Di Dua Lebaran Berbeda Dalam Satu Rumah Yang Sama: Keteladanan Ulama Perpaduan Disiplin Pesantren Modern, Kedalaman Salaf, dan Nasionalisme yang Moderat
Oleh: Ahmad Agus Salim
A. Latar Belakang dan Garis Keturunan
Ahmad Muwaffaq Noor lahir di Desa Bulumanis Kidul, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, pada tanggal 27 April 1941. Beliau adalah putra kedua dari tujuh bersaudara, terlahir dari pasangan yang cukup terpandang di lingkungan keagamaan, yaitu Mbah KH. Noor Hamid dan Mbah Hj. Aminah. Jika ditarik keatas, maka nasab beliau sampai kepada Mbah Mizan, seorang ulama terkenal di kawasan Pati Utara, yang merupakan santri sekaligus keponakan Mbah Mutamakkin Kajen.
Dari garis pernikahan, takdir mempertemukan beliau dengan Syafi’ah, putri pertama dari pasangan Mbah KH. Abdul Wahab dan Mbah Hj. Su’adah asal Kajen, Margoyoso, Pati. Syafi’ah merupakan cucu dari Mbah Baidlowi, pendiri Madrasah Salafiyah Kajen, serta memiliki garis keturunan mulia dari Waliyullah KH. Ahmad Mutamakkin. Perpaduan antara darah Bulumanis dan Kajen ini menempatkan Muwaffaq dalam simpul jaringan ulama yang kuat.
B. Jejak Pendidikan dan Pondasi Akademik
Perjalanan intelektual Muwaffaq ditempa melalui dua tradisi besar pendidikan Islam: pesantren modern dan perguruan tinggi Islam negeri.
Sejak usia muda, Muwaffaq dikirim menimba ilmu di Pondok Pesantren Darussalam, Gontor, Ponorogo. Di sinilah akar kedisiplinan tingkat tinggi, kecakapan organisasi, serta penguasaan bahasa asing (khususnya Bahasa Inggris dan Arab) tertanam kuat dalam diri beliau. Selepas dari Gontor, beliau melanjutkan studi jenjang tinggi di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan meraih gelar Bachelor of Art (BA).
Kombinasi latar belakang Gontor dan perguruan tinggi negeri menjadikan Muwaffaq sebagai sosok intelektual pesantren yang memiliki pola pikir terstruktur, ilmiah, visioner, serta berwawasan luas.
C. Khidmah Ilmiah dan Pengabdian di Madrasah Salafiyah Kajen
Kembalinya Muwaffaq ke tanah kelahiran dan pengabdian selepas studi menandai babak baru khidmah beliau di dunia pendidikan Islam. Berkat kompetensi akademik yang mumpuni—menguasai ilmu agama klasik secara mendalam (mulai dari Nahwu, Sharaf, hingga Tafsir) sekaligus memiliki kecakapan Bahasa Inggris yang handal—beliau mendapatkan kepercayaan dari Mbah Baidlowi dan keluarga besar Madrasah Salafiyah.
Muwaffaq diberikan amanah memegang posisi strategis sebagai Kepala Madrasah Salafiyah. Beliau kemudian memprakarsai dan mendirikan Madrasah Salafiyah Banat untuk pendidikan putri. Selain itu, beliau juga mengokohkan pondasi tarbiyah para santri dengan pendidikan keorganisasian melalui Keluarga Pelajar Salafiyah dengan mengadakan berbagai kegiatan pelatihan dan leadership.
Kebermanfaatan Muwaffaq semakin tampak saat beliau juga mengajar di berbagai madrasah sekitar, seperti SMP Islam dan yang lainnya, hal itu karena keahlian langka beliau dalam mengajarkan Bahasa Inggris yang masih sangat minim pengajarnya di kalangan pesantren dan madrasah.
D. Karakter, Ketegasan, dan Kedekatan dengan Santri Serta Kedekatan Intelektual Dengan Para Kyai.
Di balik sosoknya yang dikenal tegas, berwibawa, dan menjunjung tinggi disiplin, Muwaffaq adalah pribadi yang hangat, penyayang, dan sangat akrab dengan para santri maupun masyarakat sekitar.
Sikap dermawannya melegenda di kalangan santri Salafiyah. Suatu ketika, beliau pernah membuka usaha warung sate. Momentum ini kerap dimanfaatkan para santri untuk datang berkunjung dengan dalih membantu, yang tak lain juga mengincar kemurahan hati sang guru agar dapat menikmati sate bersama. Rumah beliau senantiasa hidup, terbuka, dan menjadi tempat mengaji bagi para santri pondok maupun anak-anak kampung.
Pola pikir Muwaffaq yang sistematis dan berbasis argumen ilmiah yang kuat menjadikannya salah satu dari sedikit santri yang dihitung pada masanya. Beliau dikenal sangat akrab dengan K.H. M. Sahal Mahfudz (Mbah Sahal), terutama dalam ruang-ruang diskusi keilmuan dan forum Bahtsul Masail. Kedekatan ini mencerminkan kapasitas keilmuan Muwaffaq yang diakui dan mumpuni. Muwaffaq juga sering menjadi tempat bertanya berbagai problema Fikih oleh masyarakat, bahkan para tokoh sekitar.
E. Peran Keluarga dan Dakwah yang Moderat
Dari pernikahan beliau dengan Syafi’ah, Allah SWT menganugerahi empat orang anak (tiga putra dan satu putri) yang kini terus melanjutkan estafet perjuangan dakwah di berbagai elemen masyarakat. Kompleks kediaman beliau kini berdiri megah sebagai Pondok Pesantren Bunyanun Marshush, yang didirikan oleh putra pertamanya, Ahmad Ruman Masyfu’. Putra kedua Ahmad Adib Susilo mengabdikan diri menjadi Abdi Negara di Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia. Putri satu-satunya, Nusroh Fitriyana melanjutkan perjuangan sang Ibunda di Rumah Sakit Islam Pati. Sedangkan Ahmad Agus Salim, sang putra bungsu, melanjutkan jejak-jejak langkah perjuangan beliau di Yogyakarta.
Pola pendidikan keluarga yang diterapkan Muwaffaq sangat dipengaruhi oleh kedisiplinan akademik masa mudanya. Kendati demikian, beliau juga dikenal sebagai sosok yang sangat moderat dan demokratis.
Hal ini tercermin dalam sebuah kisah unik yang dituturkan oleh putra bungsunya, Agus. Di tengah keaktifan Muwaffaq di Nahdlatul Ulama (NU) pada era Orde Baru—di mana organisasi sering kali mengambil ijtihad yang berbeda dengan ketetapan pemerintah—Muwaffaq selalu menanamkan prinsip kenegaraan yang matang. Beliau berpesan bahwa dalam urusan penetapan ibadah sosial seperti Hari Raya, umat Islam sebaiknya mengikuti keputusan pemerintah, karena di dalam struktur pemerintahan terdapat kolaborasi antara ulama dan umara (pemimpin).
Pernah suatu ketika, NU memiliki ijtihad penanggalan Idul Fitri yang berbeda dengan pemerintah. Agus remaja sempat diajak oleh kakaknya, Masyfu’, untuk merayakan Idul Fitri sehari lebih awal dengan mengikuti shalat Ied di desa Kajen. Namun, K.H. Ahmad Muwaffaq dan sang istri, Syafi’ah, tetap teguh berlebaran keesokan harinya di Desa Bulimanis, mengikuti ketetapan pemerintah. Alhasil, dalam satu rumah terdapat dua hari raya yang berbeda. Di sinilah kearifan Muwaffaq terpancar; beliau tidak memaksakan pandangan secara kaku, melainkan bersikap moderat dan mempersilakan anak-anaknya memilih. Agus mengenang momen tersebut dengan hangat: di dapur rumah mereka, aroma opor ayam mengepul meriah selama dua hari berturut-turut.
F. Akhir Hayat dan Warisan Keteladanan.
Setelah melalui perjuangan panjang mengabdikan diri pada agama, umat, dan bangsa, sosok tangguh ini harus berhadapan dengan sakit menahun di penghujung usianya.
K.H. Ahmad Muwaffaq Noor berpulang ke rahmatullah pada hari yang penuh kemuliaan, yakni Jumat, 16 Agustus 2002, tepat sehari menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-57. Wafatnya sang kiai di hari yang istimewa tersebut seolah menjadi simbol kecintaan mendalam beliau terhadap agama dan tanah airnya.
Warisan pemikiran, ketegasan moral, kedisiplinan akademik, serta sikap moderat dalam berbangsa dan beragama yang ditinggalkan oleh K.H. Ahmad Muwaffaq Noor akan terus hidup dan menjadi obor penerang bagi generasinya serta dunia pesantren Indonesia.
“Nanti diantara anak-anakku akan ada yang sekolah di luar negeri. Ada yang di Eropa dan ada yang di Arab”. Kelakarnya kepada teman-temannya saat menjenguk beliau sakit. Semuanya senyum dan tertawa, karena mereka tahu, Muwaffaq mungkin sedang mengenang mimpi-mimpi masa muda di akhir hayatnya. Namun, ketika Allah memanggilnya pulang, Ahmad Adib Susilo putra keduanya sedang menapakkan kaki di Universitas Manchester, Inggris. Dua tahun berikutnya, Ahmad Agus Salim berjalan di lorong-lorong kecil belakang Kampus Al-Azhar Mesir. Bahkan mungkin puluhan tahun silam saat Muwaffaq mengirim putra pertamanya Ahmad Ruman Masyfu’ untuk menghafal al-Qur’an di Peneleh, Surabaya, Dia sudah melihat bahwa rumah kayu keluarga yang mulai lapuk dimakan usia, akan bertransformasi menjadi Pesantren Berbasis al-Qur’an, Bunyanun Marshush, Bangunan Yang Kokoh.




