Samudera Khidmah di Sudut Salafiyah: Menelusuri Keteladanan, Keilmuan dan Cinta KH. Abdul Wahab
Oleh: Ahmad Agus Salim (Cucu sekaligus Santri)
Ditulis khidmat dalam hening doa memperingati Haul ke-28 (11 Rabi’ul Akhir 1448 H)
Mukadimah: Menatap Bayang-Bayang Wajah Sang Kyai
Di antara bilik-bilik kayu dan aroma kitab kuning yang keluar dari sudut desa Kajen, ada sebuah nama yang harumnya tak pernah pudar oleh tiupan masa. Beliau bukan sekadar riwayat dalam silsilah keluarga, bukan pula sekadar untaian aksara dalam manuskrip pesantren. Bagi kami—para santri dan anak-cucunya—beliau adalah telaga keteladanan yang airnya senantiasa menyejukkan dahaga batin.
Dalam kanvas ingatan masa kecil penulis yang paling bening, wajah Mbah Wahab atau yang biasa penulis panggil Mbah Roko terlukis dengan begitu agung: tampan, teduh, bersahaja, memancarkan wibawa dan kharisma yang lahir dari kebersihan jiwa. Setiap kali malam Jum’at menjelang, hati penulis selalu berdegup penuh suka cita. Langkah kaki kecil bergegas untuk menginap di kediaman beliau. Di sana, di balik pintu kayu yang selalu ramah menyambut, Mbah Wahab akan menyisipkan selembar uang dua ribu rupiah ke dalam saku—jumlah yang teramat besar dan penuh berkah kala itu—disertai kehangatan hidangan terlezat dari dapur Mbah Su’adah yang disajikan dengan rasa cinta seorang nenek.
Namun, di balik kenangan manis masa kecil itu, ada samudra perjuangan, pengorbanan, dan cinta yang begitu menggetarkan jiwa.
Benih Keilmuan: Dari Karangrowo Demak Menuju Kajen Pati
Perjalanan agung ini bermula dari sebuah desa bersahaja di pedalaman Demak, Karangrowo, Kecamatan Wonosalam. Dari rahim seorang ibu bernama Nyai Saerah, di bawah asuhan penuh kesahajaan Kyai Yasir, lahirlah seorang bocah bernama Syahri. Tak ada yang menyangka, anak desa berhati jernih ini kelak ditakdirkan menjadi Sebagian pilar penopang salah satu mercusuar keilmuan Islam tertua di pesisir utara Jawa. Kelak nama yang harum ini berganti menjadi Abdul Wahab (Sang Hamba dari Dzat Maha Pemberi) usai menunaikan ibadah haji di Baitullah.
Sejak belia, jiwa Syahri telah tertempa oleh kerasnya riyadhoh dan kecintaan pada ilmu-ilmu syariat di tanah kelahirannya. Dahaga spiritual yang tak pernah padam menuntun langkah pemuda Syahri menuju sebuah desa yang sarat berkah para wali: Kajen, Margoyoso, Pati. Di sanalah ia menjatuhkan pilihan untuk bersimpuh di bawah asuhan maha guru karismatik, Al-Maghfurlah KH. Baidlowi Sirodj, di Pondok Salafiyah.
Ketekunan, keikhlasan, dan akhlak adab yang luhur menjadikan Wahab muda begitu istimewa di mata sang guru. Ia tumbuh bukan sekadar sebagai penuntut ilmu, melainkan menjadi santri kinasih—tempat sang guru melabuhkan kepercayaan terdalam. Kedekatan ruhani ini berujung pada takdir yang mulia: KH. Baidlowi Sirodj menjodohkan dan menikahkan santri kinasihnya itu dengan putrinya sendiri, Ning Su’adah, yang saat itu masih kanak-kanak, berumur sembilan tahun.
Pernikahan tersebut bukanlah tanda berhenti melangkah, melainkan gerbang awal pengembaraan ruhani yang lebih terjal. Menuruti dawuh sang guru sekaligus mertua tercinta, Wahab muda berpamitan, melangkah melintasi batas daerah menuju Lembah Termas di Pacitan, Jawa Timur. Selama enam tahun lamanya, ia menggembleng diri di Pesantren Termas—merengkuh sanad, membasahi bibirnya dengan hafalan matan, dan mengasah bathiniyah hingga tuntas. Enam tahun dalam tirakat kerinduan dan ilmu, sebelum akhirnya ia kembali ke Kajen untuk satu tujuan suci: mengabdikan hidupnya membantu sang mertua membesarkan Pondok dan Madrasah Salafiyah.
Kecerdasan Mbah Wahab begitu lekat di ingatan para santri. Di lingkungan Pesantren Salafiyah, beliau masyhur dengan julukan “Kamus Berjalan”. Segala kerumitan makna dan kedalaman gramatika Arab seolah telah menyatu di dalam kepalanya, siap tumpah ruah menjawab dahaga siapa pun yang bertanya.
Meratukan Kekasih Jiwa di Samping Menara Khidmah
Mbah Wahab adalah manifestasi nyata dari sabda luhur, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya.”
Di tengah kesibukan mengurus umat dan pesantren, Mbah Wahab menorehkan teladan cinta yang membuat air mata siapapun bergetar haru. Beliau tidak sekadar mencintai istrinya, Mbah Nyai Su’adah; beliau meratukannya. Tak sekalipun sepanjang hidupnya terdengar bentakan atau kata kasar dari lisannya kepada sang istri.
Bahkan, sebuah potret cinta yang begitu romantis dan sarat adab: setiap kali Mbah Nyai hendak mandi, Mbah Wahab-lah yang secara istiqomah merebuskan air hangat dengan kedua tangannya sendiri. Bukan karena ketiadaan khadam atau santri, melainkan wujud penghormatan tak bertepi kepada belahan jiwanya—yang ia pandang bukan semata sebagai istri, melainkan titipan suci dan darah daging dari gurunya, Mbah Baidlowi.
Dari pernikahan yang penuh sakinah dan keberkahan ini, Allah SWT menganugerahi mereka sebelas putra-putri. Hari ini, tunas-tunas zuriat Mbah Wahab dan Mbah Su’adah telah merekah dan mengakar ke berbagai penjuru negeri: dari belahan ujung timur pulau Jawa, Jawa Tengah, tanah istimewa Yogyakarta, riuh Jakarta, hingga bentangan Banten di barat.
Saudagar Santri yang Berjiwa Dermawan
Mbah Wahab mengajarkan bahwa seorang santri dan pejuang agama tidak boleh bergantung pada tangan orang lain. Kemandirian adalah marwah. Di samping mengajar dan mengurus pesantren, beliau merintis usaha dagang kain dan konveksi. Berkat ketekunan, kejujuran, dan berkah langit, usahanya melesat luar biasa. Pada zamannya, beliau telah memiliki belasan mesin jahit—sebuah pencapaian ekonomi yang sangat prestisius kala itu.
Namun, bengkel jahit dan lapak dagangnya bukan semata ladang mengeruk dunia. Mbah Wahab merangkul para santri; beliau mendidik mereka berniaga, mengajari mereka memotong pola dan menginjak pedal mesin jahit. Santri tidak hanya dipersiapkan menjadi ahli fikih, tetapi juga diajari berdiri di atas kaki sendiri.
Rezeki yang melimpah ruah itu beliau kembalikan sepenuhnya ke jalan Allah. Dari jerih payahnya, Mbah Wahab menunaikan rukun Islam kelima ke Tanah Suci pada masa ketika samudra harus diarungi berbulan-bulan lamanya menggunakan kapal laut. Tak hanya untuk dirinya sendiri, dengan kelapangan hati yang luar biasa, beliau menghajikan ibu mertuanya, Mbah Nyai Hajroh (sementara sang mertua, Mbah Baidlowi, telah berhaji sejak masa muda saat menuntut ilmu di Makkah).
Keahlian manajerial dan kejujuran beliau menjadikannya sosok bendahara yang tiada tanding. Beliau diamanahi sebagai Bendahara Yayasan Salafiyah Kajen sekaligus pengatur logistik makan para santri. Tepat di samping Musholla dan Pondok Salafiyah, berdirilah kediaman Mbah Wahab. Di pelataran dan ruang rumahnya, berjejer rapi meja dan kursi makan panjang khusus untuk santri-santri perantau. Setiap hari, aroma sedap masakan mengepul, memastikan perut para penuntut ilmu terisi sebelum mereka membuka lembaran-lembaran kitab.
Amanah besar lain adalah tatkala Suronan—Haul akbar waliyullah Syaikh Ahmad Mutamakkin Kajen. Mbah Wahab dipercaya menjadi Bendahara Lelang Selambu Makam Mbah Mutamakkin. Selama momentum haul tersebut, rumah beliau sering terbuka 24 jam tanpa kunci. Pintu dibuka lebar-lebar untuk memuliakan tamu, menyambut para kiai, alumni, dan keluarga santri yang berziarah dari seluruh penjuru nusantara. Mereka banyak yang tidur di ruang tamu dan emperan rumah Mbah Wahab dan Mushilla Salafiyah didepannya. Bagi Mbah Wahab, tamu adalah pembawa rahmat yang wajib dilayani laksana raja.
Firasat Cinta: “Jangankan Harta, Nyawaku Kan Kuberikan”
Kisah kedermawanan Mbah Wahab yang paling menghujam di sanubari diceritakan oleh ibu penulis, Nyai Syafi’ah, putri sulung beliau. Suatu ketika, Madrasah Salafiyah berada dalam fase genting untuk perluasan gedung belajar santri. Tanah di sekelilingnya harus dibebaskan. Namun, sang pemilik tanah saat itu menolak dibeli dengan uang; ia hanya menginginkan tukar guling dengan sebidang sawah produktif yang bagus.
Di kalangan keluarga kala itu, sawah dengan kriteria tersebut sangat langka, dan hanya Mbah Wahab yang memilikinya—tanah subur simpanan masa depan keluarga. Tanpa ragu sedetik pun, tanpa rasa sayang pada perhiasan dunia, Mbah Wahab melepaskan sawah terbaiknya untuk ditukar demi tegaknya gedung madrasah. Tak hanya tanah, uang pribadinya pun sering mengalir deras menutup celah-celah kebutuhan pendidikan.
Tatkala putra-putrinya tertegun memandang kerelaan sang ayah melepaskan aset berharga itu, Mbah Wahab menatap mereka dengan tatapan mata yang bening dan ketegasan yang menggetarkan dada:
“Jangankan harta benda… nyawa saja, jika diminta oleh guruku, akan kuberikan!”
Sebuah ucapan yang lahir dari puncak mahabbah dan ketundukan murid kepada gurunya. Di mata Mbah Wahab, segala yang ia miliki adalah berkat barokah Mbah Baidlowi, dan sudah selayaknya dikembalikan untuk memuliakan panji perjuangan sang guru.
Kasih sayangnya kepada orang-orang di sekitarnya begitu lembut dan menyentuh hal-hal kecil. Masyfu’, cucu pertama beliau, beserta para santri sering berkisah dengan mata berkaca-kaca. Jika Mbah Wahab mengutus mereka pergi jauh—ke Kudus atau ke Pati untuk membeli obat—beliau tidak hanya memberi uang transport dan uang tebusan obat. Mbah Wahab selalu menyisipkan uang lebih ke telapak tangan seraya berpesan:
“Iki nggo jajan… Aja nganti ngeleh nang dalan (Ini buat beli jajan… Jangan sampai kelaparan di jalan).”
Cahaya Istiqomah: Air Wudhu, Tangis Tahajud, dan Langkah Tertatih
Hati Mbah Wahab senantiasa terpaut pada majelis ilmu. Sampai usia senja, dahaga mengaji tak pernah padam. Setiap bulan Ramadhan, beliau sering mengikuti tradisi posonan (mengaji kilatan kitab kuning). Bahkan, pada saat sang mertua tercinta, KH. Baidlowi Sirodj dipanggil menghadap Ilahi, Mbah Wahab sedang berada di tanah Rembang, bersimpuh dalam majelis posonan.
Keteguhan beliau dalam mengajar adalah legenda bisu yang disaksikan tiang-tiang Madrasah Salafiyah. Di hari-hari tuanya, tatkala fisiknya digerogoti usia dan penyakit, langkahnya mulai tertatih-tatih. Namun panggilan mengajar tak pernah ia abaikan. Dengan sabar, beberapa santri memapah tubuh ringkihnya, meniti undakan tangga selangkah demi selangkah. Napasnya terengah, namun binar matanya saat melihat para santri membuka kitab adalah api keabadian yang tak kunjung padam.
Dan tatkala tirai malam menutup bumi, saat seluruh santri terlelap dalam lelahnya muthala’ah, sebuah suara lirih selalu membelah keheningan sepertiga malam. Yusroh, putri bungsu Mbah Wahab, menjadi saksi bisu kebiasaan sang ayah:
“Bapak selalu terdengar menangis tersedu-sedu saat sujud shalat tahajudnya… Dalam isak tangis itu, bapak melafalkan satu per satu nama keluarga, memohonkan keselamatan, keshalihan, dan hidayah bagi putra-putrinya…”
Tangisan di atas sajadah itulah yang menjadi pelita ghaib, yang mengawal anak cucunya menembus badai kehidupan.
Hikmah dari Butiran Air Wudhu
Suatu siang di kantor Madrasah Salafiyah, seorang guru yang merupakan santri Mbah Wahab pernah membagikan sepotong mutiara yang diajarkan langsung kepadanya:
“Dulu, Mbah Wahab pernah mengajariku cara berwudhu secara langsung, Mas… Kata beliau, supaya hidupmu lebih berkah dan memancarkan cahaya di akhirat, saat membasuh anggota wudhu, lebihkanlah basuhannya. Jika membasuh tangan, jangan berhenti di siku, naikkanlah sampai mendekati pundak. Jika membasuh kaki, jangan hanya sebatas mata kaki, basuhlah sampai betis atas.
Sembari air mengalir, hatimu jangan lalai. Berdoalah pada setiap basuhan:
‘Ya Allah, aku membasuh wajahku, agar kelak wajah ini dapat selalu memandang kebaikan dari-Mu di akhirat…
Aku membasuh kedua tanganku, agar kedua tangan ini terhindar dari perbuatan tercela dan senantiasa ringan melakukan kebajikan…
Dan aku membasuh kakiku, agar kaki ini selalu tegak melangkah di jalan ibadah kepada-Mu, melangkah menuntut ilmu dan mencari ridha-Mu…'”
Falsafah wudhu ini sejatinya adalah cerminan hidup Mbah Wahab sendiri: beliau selalu “melebihkan” segalanya—melebihkan sedekahnya, melebihkan kesabarannya, melebihkan khidmahnya, dan melebihkan cintanya kepada sesama.
Kepulangan Sang Pecinta: Khusnul Khatimah
Tahun demi tahun berganti, raga yang dipenuhi amal jariyah itu akhirnya diuji oleh Allah melalui sakit menahun. Namun, dalam sakitnya yang panjang, tak pernah ada keluh kesah. Wajahnya tetap menampakkan ketenangan laksana air di bejana perak.
Hingga tibalah takdir yang tak terelakkan. Pada hari Senin, 11 Rabi’ul Akhir 1420 H bertepatan dengan 25 Juli 1999 M, Mbah Wahab menghembuskan napas terakhirnya dengan tenang. Langit Kajen mendung, deraian air mata para ulama, ribuan santri, dan masyarakat membasahi bumi pesisir utara itu. Sang benteng Salafiyah telah dipanggil kembali oleh Sang Pemilik Jiwa.
Beliau berpulang dengan mewariskan kekayaan yang abadi: akhlak mulia yang tak ternilai. Sepanjang hayatnya, beliau tak pernah marah kepada istri, anak-anak, maupun cucu-cucunya. Mengapa? Karena di dalam darah mereka, mengalir nasab suci sang guru, KH. Baidlowi Sirodj. Betapa agungnya adab seorang murid, yang bahkan memuliakan anak-cucunya sendiri semata-mata karena rasa takzimnya kepada sang guru.
Kendati memiliki banyak santri yang setia mengabdi, Mbah Wahab pantang menyuruh-nyuruh. Selama tubuhnya masih mampu beranjak, selama kedua tangannya masih bisa meraih, beliau memilih menyelesaikan semua kebutuhannya sendiri. Itulah akhlak seorang arif yang tak ingin membebani orang lain.
Penutup: Warisan Abadi Sang Hamba
Mbah Wahab adalah sebuah paradoks keindahan: sosok yang kaya raya namun bersahaja tanpa kemewahan, pendiam yang jarang bicara bila tak perlu, namun lisannya selalu basah oleh dzikir; seorang saudagar yang hatinya zuhud terhadap dunia.
Kecintaan beliau yang membara terhadap ilmu pengetahuan kini telah menjelma menjadi pohon rindang yang berbuah manis. Dari rumah sederhana di samping musholla itu, lahir generasi anak, cucu, hingga cicit yang mencintai ilmu. Doa-doa tahajudnya di sepertiga malam telah mengantarkan keturunannya menimba ilmu menembus batas-batas samudera—tidak hanya di seantero pesantren Nusantara, melainkan terbang berkelana mengaji ke universitas-universitas di berbagai penjuru dunia.
Hari ini, pada Haul ke-28 ini, harum makammu masih merebak di sanubari kami, Mbah. Langkah tertatihmu di tangga madrasah, kucuran air hangat yang kau siapkan untuk Mbah Nyai, serta derai tangismu di kesunyian malam akan senantiasa menjadi suluh yang menerangi jalan kami.
Dari rumahmu, masih mengalir lantunan-lantunan mengaji para santri, para anak cucumu akan senantiasa meneruskan bakti.
Lahu Al-Faatihah…



